Serang, 22 Desember 2025 — Direktur Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin (UIN SMH) Banten, Prof. Dr. H. Wasehudin, M.SI., menjadi salah satu narasumber nasional dalam kegiatan Refleksi Pendidikan Islam 2025: Merancang Masa Depan PAI di Indonesia, yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Program Studi Pendidikan Agama Islam Indonesia (PPPAII) melalui forum PPPAII Lounge Series 6.
Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom ini diikuti oleh dosen, mahasiswa, praktisi pendidikan, serta pemerhati Pendidikan Agama Islam (PAI) dari berbagai daerah di Indonesia.
Dalam paparannya, Prof. Dr. H. Wasehudin, M.SI. menegaskan bahwa Pendidikan Agama Islam tidak hanya berbicara tentang warisan masa lalu, tetapi harus mampu menyiapkan masa depan generasi bangsa di tengah percepatan perubahan teknologi dan globalisasi nilai.
“Di masa depan, teknologi akan menjadi guru, namun PAI adalah navigator nilai yang menentukan arah peradaban. Tanpa nilai, kecerdasan kehilangan tujuan,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa dunia pendidikan saat ini tengah bergerak menuju hybrid intelligence, yaitu integrasi antara digital intelligence dan spiritual intelligence. Menurutnya, PAI tidak cukup hanya mengajarkan apa yang benar, tetapi harus mampu menuntun ke mana ilmu digunakan agar tetap berorientasi pada kemaslahatan.
Dalam konteks tantangan zaman, Prof. Wasehudin menyoroti revolusi kecerdasan buatan (AI), virtual reality (VR/AR), dan metaverse yang telah membentuk pola belajar baru, sekaligus melahirkan krisis identitas pada generasi digital. Oleh karena itu, PAI perlu bertransformasi agar tidak tertinggal dalam adaptasi teknologi, namun tetap kokoh dalam nilai tauhid, adab, dan akhlak.
Lebih lanjut, ia memaparkan konsep PAI 4.0/5.0 yang menekankan integrasi nilai-nilai Islam dengan teknologi, melalui pembelajaran imersif, pendekatan berbasis proyek sosial-spiritual, serta pemanfaatan teknologi secara etis dan bertanggung jawab. Output yang diharapkan adalah lahirnya peserta didik yang beriman, berakhlak Qur’ani, cakap digital, kreatif, serta memiliki identitas Islam yang kuat di tengah arus globalisasi.
Sebagai penutup, Prof. Wasehudin menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya membutuhkan manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi juga manusia beretika yang mampu mengarahkan kecerdasan untuk membangun peradaban yang bermakna.
“Teknologi mempercepat kemampuan manusia, tetapi PAI menavigasi makna, tujuan, dan arah peradaban,” pungkasnya.
Kegiatan Refleksi Pendidikan Islam 2025 ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat diskursus masa depan Pendidikan Agama Islam, sekaligus menegaskan peran penting PAI dalam membentuk generasi khalifatullah yang adaptif, berkarakter, dan berdaya saing di era Society 5.0.








