Selamat Datang Pascasarjana
red-logo1-1

Tantangan Masa Depan, Pascasarjana UIN SMH Banten Gelar Studium General Bahas Transformasi Lintas-Disiplin ‘Islamic Studies’

SERANG – Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten sukses menggelar kuliah umum (Studium General) dengan mengangkat tema strategis mengenai arah dan masa depan studi Islam global. Acara yang dihadiri oleh jajaran civitas akademika, dosen, serta mahasiswa pascasarjana ini menghadirkan narasumber bereputasi nasional, Prof. Dr. Nur Syam, M.Si.
Prof. Dr. Nur Syam, M.Si merupakan Guru Besar Sosiologi pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya yang saat ini juga mengemban amanah sebagai Tenaga Ahli Menteri Agama Republik Indonesia. Selain itu, beliau merupakan tokoh senior dalam dunia akademik keagamaan yang pernah menduduki berbagai posisi strategis, termasuk sebagai mantan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya dan mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Agama R.I.


Acara ini dibuka secara resmi oleh Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof. Dr. Muhammad Ishom, M.A. Dalam sambutannya, Rektor menekankan pentingnya bagi institusi Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) untuk terus mengawal, mempertahankan, sekaligus mengembangkan studi Islam di tengah perubahan zaman yang serba cepat. Pengembangan ini dinilai bukan sekadar tugas akademik, melainkan sebuah mandat kesejarahan dalam menjaga moral bangsa dan memperkuat relevansi sosial keagamaan.
Dalam paparan materinya yang bertajuk “Islamic Studies di Masa Depan: Peluang, Tantangan, dan Agenda Strategis”, Prof. Nur Syam menggarisbawahi perlunya pergeseran paradigma dalam studi Islam. Menurutnya, Islamic Studies tidak boleh lagi dikurung dalam definisi lama yang hanya berfokus pada kajian normatif seperti akidah, fikih, tafsir, hadis, dan sejarah Islam semata.
“Hari ini, Islamic Studies sedang bergerak menjadi kajian lintas-disiplin (interdisciplinary dan multidisciplinary) yang beririsan langsung dengan realitas global. Kita harus mampu menghubungkannya dengan isu digital humanities, kecerdasan buatan (AI), ekonomi halal, keuangan syariah, etika teknologi, krisis iklim, hingga dinamika politik global,” ujar penulis buku Integrasi Ilmu Madzhab Indonesia tersebut.
Lebih lanjut, Prof. Nur Syam memaparkan data demografi global dari Pew Research Center yang memproyeksikan populasi Muslim dunia akan mendekati 2,8 miliar atau sekitar 30% dari populasi global pada tahun 2050. Menurutnya, pertumbuhan masif ini menjadi fondasi kuat yang menuntut Islamic Studies untuk memperluas perannya agar tidak hanya menjadi konsumsi internal kampus, melainkan rujukan bagi para pembuat kebijakan internasional dan pelaku industri global.
Beliau juga memetakan berbagai peluang riset masa depan yang sangat terbuka lebar bagi mahasiswa pascasarjana, seperti:
•⁠ ⁠Ekonomi dan Keuangan Syariah: Meliputi kajian fikih muamalah kontemporer, sukuk hijau (green sukuk), fintech syariah, wakaf produktif, hingga zakat digital seiring dengan pesatnya pertumbuhan aset keuangan syariah dunia.
•⁠ ⁠Etika Global Berbasis Maqashid Syariah: Memberikan respons akademik terhadap tantangan teknologi seperti AI generatif, disinformasi digital, bioetika, hingga fikih lingkungan (hifz al-bi’ah).
Di akhir sesi, Prof. Nur Syam mengingatkan bahwa prasyarat utama agar studi Islam masa depan dapat diakui secara global adalah metodologinya yang harus berbasis data ilmiah dan pendekatan akademik yang kuat, bukan sekadar slogan normatif.
Acara Studium General berlangsung interaktif dengan sesi diskusi yang dinamis antara narasumber dan para mahasiswa Pascasarjana UIN SMH Banten, yang diharapkan dapat memicu lahirnya tesis maupun disertasi yang inovatif dan kontekstual terhadap tantangan zaman.
(Humas Pascasarjana UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten)

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories