AI Darul Fattah Lampung menyelenggarakan International Seminar bertajuk “Heritage and Technology as Pillars of Modern Arabic Language Learning” pada Minggu, 21 Desember 2025. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah akademisi nasional dan internasional yang berkompeten di bidang pendidikan dan pembelajaran bahasa Arab. Kegiatan ini dihadiri dan dibuka langsung oleh Rektor IAI Darul Fattah, Dr. Ahmad Hadi Setiawan, M.Pd.I.
Salah satu pembicara yang menjadi perhatian adalah Dr. Ahmad Habibi Syahid, M.A.Pd, dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, yang diundang sebagai Invited Speaker. Abe—sapaan akrabnya—menyampaikan paparannya secara daring menggunakan bahasa Arab dengan judul “التحول الرقمي في تعليم اللغة العربية: استكشاف الذكاء الاصطناعي والتعلم الغامر” (Transformasi Digital dalam Pembelajaran Bahasa Arab: Eksplorasi Kecerdasan Buatan dan Pembelajaran Imersif).
Dalam pemaparannya, Abe menegaskan bahwa teknologi pada hakikatnya adalah alat atau media, bukan tujuan akhir dalam pembelajaran. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi—termasuk kecerdasan buatan—harus diarahkan untuk memperkuat proses pembelajaran bahasa Arab agar lebih bermakna, efektif, dan kontekstual. Ia juga menekankan pentingnya keberlanjutan melalui riset dan pengembangan (research and development) agar transformasi digital tidak berhenti pada penggunaan teknologi semata, melainkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan.
Selain Dr. Ahmad Habibi Syahid, seminar ini juga menghadirkan Prof. Dr. Tamer Sa’ad Ibrahim Khedr dari Qanaat Suez University, Mesir, yang memberikan perspektif global terkait pengembangan pembelajaran bahasa Arab di dunia internasional, khususnya mengenai peran linguistik terapan dalam pengembangan pengajaran bahasa Arab bagi bukan penutur asli. Pembicara lainnya adalah Prof. Dr. Danial Hilmi, M.Pd. dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, yang menyoroti integrasi nilai turats dalam kurikulum bahasa Arab kontemporer. Muhammad Syukron Mukhtar, Lc., M.Ag., anggota DPRD Provinsi Lampung, juga turut menjadi pembicara dalam seminar internasional ini.
Setelah sesi pemaparan, acara dilanjutkan dengan diskusi interaktif bersama para audiens. Antusiasme peserta terlihat dari berbagai pertanyaan kritis yang diajukan, baik terkait pemanfaatan teknologi, kebijakan pendidikan bahasa Arab, maupun implementasi kecerdasan buatan dalam kelas. Seluruh pembicara, termasuk Abe, secara aktif memberikan tanggapan dan penjelasan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Seminar internasional ini ditutup dengan sesi pemberian sertifikat kepada para pembicara sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi ilmiah dan gagasan yang telah disampaikan. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi forum strategis dalam memperkuat kolaborasi akademik serta mendorong inovasi pembelajaran bahasa Arab berbasis nilai warisan dan teknologi modern.








